Selasa, 2008 April 29

Penelitian Dampak Pemanasan Global Terhadap Bali

BALI: Hasil penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap pariwisata di Pulau Bali yang eksotis diluncurkan oleh WWF, sebuah organisasi konservasi global, hari ini di Bali.

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata oleh turis dari seluruh dunia, namun alamnya yang menawan dan industri pariwisatanya sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Penelitian ini membuka informasi mengenai dampak fisik, sosial dan ekonomi akibat perubahan iklim di Bali dan bagaimana dampak ini menambah berat tekanan-tekanan yang sedang dialami oleh pulau tersebut, khususnya terhadap pariwisata – industri utama di Bali.

“Perubahan iklim adalah ancaman besar terhadap sektor pariwisata di Bali, karena bisa merusak aset utama sektor ini, yaitu lingkungan alamiah,” ujar Dr Lida Pet-Soede, Kepala Program Coral Triangle WWF. “Ancaman yang sama juga berlaku bagi sektor ini diseluruh kawasan Coral Triangle, dan WWF mengajak perusahaan-perusahaan terkait untuk bersama-sama mengambil tindakan, serta membantu meyakinkan pemerintah-pemerintah negara-negara terkait untuk juga mengambil bagian peran mereka,” tambah Pet-Soede.

“WWF secara khusus mencari seorang pionir diantara para pemimpin Pacific Asia Tourism Association (PATA) dalam acara PATA CEO Challenge di Bangkok, 29-30 April 2008,” kata Richard Leck, Pemimpin Strategi Perubahan Iklim, Program Coral Triangle WWF.

“Industri pariwisata di Bali dan di seluruh kawasan Coral Triangle perlu bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat-masyarakat local untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, untuk melindungi sumber pangan dan sumber air, serta membuat perencanaan yang baik untuk menghadapi dampak potensial perubahan iklim,” kata Leck lagi.

Keenam Negara Coral Triangle (Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste) dan negara-negara tetangga (Fiji dan Australia) seluruhnya mengalami tekanan yang sama seperti Bali. Dengan tumbuhnya momentum Inisiatif Coral Triangle untuk Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan oleh pemerintah keenam negara, penting pula bagi industri pariwisata untuk mengambil peranan dalam pendekatan baru untuk konservasi di kawasan ini. WWF memiliki komitmen penuh atas inisiatif ini, dan percaya bahwa industri pariwisata adalah mitra yang sangat berharga dalam memerangi dampak buruh perubahan iklim.

Beberapa rekomendasi kunci dari hasil penelitian memasukkan pengurangan emisi karbon dalam industri pariwisata, memasukkan rencana adaptasi dalam strategi pembangunan kedepan, menerapkan lebih banyak moda transportasi ramah lingkungan, menganjurkan lebih banyak praktek pariwisata yang bertanggung jawab dan ramah pada iklim, menegakkan kebijakan lingkungan yang sudah ada, dan mendorongkan lebih banyak program perlindungan alam di Bali serta mengingatkan bahwa alam adalah aset utama perekonomian Bali.

Penelitian ini didukung oleh pendanaan dari Yayasan Turing.

Catatan untuk Redaksi:
Dari hasil penelitian, beberapa dampak perubahan iklim yang mungkin terjadi terhadap:

Lingkungan alamiah


  • Kenaikan permukaan air laut yang menyebabkan erosi pantai dan pesisir, salinasi pada cadangan air tawar, dan yang terburuk adalah tenggelamnya seluruh pesisir atau seluruh pulau;

  • Suhu air laut menghangat;

  • Peningkatan frekuensi terjadinya badai;

  • Berjangkitnya penyakit menular secara luas.


Lingkungan non-alamiah

  • Ditutupnya bandara Ngurah Rai secara regular karena hempasan ombak tinggi;

  • Rusaknya infrastruktur pariwisata yang berada di dataran rendah Bali;

  • Meningkatnya tekanan dan permintaan pembukaan lahan akibat pergerakan populasi dari dataran rendah;

  • Ancaman terhadap ketahanan pangan akibat perubahan pola cuaca yang menyebabkan praktek-praktek pertanian tidak mampu bertahan;

  • Timbulnya masalah cadangan air tawar akibat perubahan pola hujan.


Untuk laporan lengkap penelitian ini, hubungi: alim@wwf.org.my

  • ‘Coral Triangle’ adalah keajaiban dunia yang unik, kawasan laut dengan keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini, hanya bisa ditandingi oleh Hutan Hujan Amazon dan Cekungan Congo dalam hal peran pentingnya bagi kehidupan di bumi. Terdiri dari kawasan laut dengan lebih dari 500 spesies karang penyusun terumbu, yang membuat bentuk mirip sebuah segitiga, mencakup 5,4 juta kilometer persegi kawasan laut yang membentang meliputi enam Negara di kawasan Indo-Pasifik – Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste, yang kemudian dikenal sebagai CT6.

  • Coral Triangle memiliki lebih dari 75% spesies karang yang dikenal dunia ilmu pengetahuan, 40% species ikan karang dunia, enam dari tujuh spesies penyu, 22 spesies lumba-lumba dan berbagai satwa laut menakjubkan lainnya, termasuk hiu paus yang bermigrasi, pari manta dan duyung.

  • Coral Triangle secara langsung memberi kehidupan bagi 130 juta orang di kawasan tersebut, dan memberi keuntungan bagi jutaan lainnya diseluruh dunia. Merupakan tempat pemijahan dan perkembangbiakan berbagai spesies ikan seperti tuna yang mendukung industri perikanan senilai milyaran dollar, sementara terumbu karang yang sehat dan ekosistem pesisir mendukung berkembangnya sektor pariwisata, sekaligus memberi perlindungan terhadap tsunami dan badai.

  • Inisiatif Coral Triangle untuk Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security) bertujuan melindungi warisan kekayaan laut dan pesisir alami kawasan ini untuk generasi mendatang. Coral Triangle adalah kemitraan multilateral baru antara enam negara dalam CT6.

  • Melalui inisiatif ini, bulan Desember 2007 lalu keenam negara berkomitmen untuk menangani ancaman-ancaman utama pada Coral Triangle, termasuk penangkapan berlebihan, praktek perikanan yang merusak, polusi dan perubahan iklim. Komitmen ini akan dilaksanakan melalui Rencana Aksi yang komprehensif, yang akan disahkan oleh tingkatan politis tertinggi awal tahun 2009.


Kunjungi: http://www.cti-secretariat.net

Sumber : WWF

0 komentar: